Covid Usai Jangan Happy Dulu, Ekonomi Global Masih Waspada

Covid Usai Jangan Happy Dulu, Ekonomi Global Masih Waspada

Sri Mulyani dalam acara rapat koordinasi pembangunan pusat 2023 (Tangkapan layar youtube)Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan bahwa tekanan ekonomi global masih akan terjadi, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengumumkan Pandemi Covid-19 telah usai.

Ia mengakui, setelah semakin turunnya angka penyebaran wabah corona, risiko tekanan terhadap ekonominya akibat pembatasan aktivitas sosial sudah semakin surut, ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi global https://138kas.info/ yang mulai pulih.

Ditandai dengan pertumbuhan ekonomi global pada 2021 yang mampu melesat hingga 5,7%, namun kembali diperkirakan beberapa lembaga internasional, seperti IMF ke posisi 3,4% pada 2022 dan kembali turun hingga 2,8% pada 2023.

“Saat ini kita menghadapi post pandemic situation, di satu sisi Pandemi Covid secara signifikan turun and baru-baru ini WHO telah mendeklarasikan akhir dari kondisi darurat kesehatan global akibat Covid,” kata Sri Mulyani dalam acara the 2nd International Conference on Muslim Economy and Business (ICMWEB2023), Rabu (10/5/2023).

“Sayangnya, ketika risiko dari pandemi ini telah surut, lanskap ekonomi global menghadirkan tantangan yang berkelanjutan dan mengancam pemulihan ekonomi global,” tuturnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, berlanjutnya risiko tekanan ekonomi global ini masih dipicu oleh dampak perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Akibat peperangan itu, harga-harga komoditas mengalami tekanan yang memicu ketidakpastian ekonomi dari sisi perdagangan internasional

Kondisi geo-ekonomi kata dia juga semakin terfragmentasi secara lebih luas dan mendalam, mengakibatkan tingginya angka inflasi di berbagai negara, khususnya negara-negara maju. Sering dengan munculnya kebijakan inflation reduction act di Amerika Serikat dan Carbon Border Adjustment Mechanism di Uni Eropa.

“Ini akan membuat tambahan tekanan dari sisi ekspor di negara-negara yang menjadi mitra dagang mereka. Demikian juga tekanan terhadap arus modal atau investasi,” ucap Sri Mulyani.

Tingginya angka inflasi di negara-negara maju juga menyebabkan bank sentralnya menaikkan suku bunga acuan secara cepat dan signifikan. Sehingga menekan laju pertumbuhan ekonominya dan menambah tekanan terhadap biaya utang.

“Akibatnya IMF telah memperkirakan dalam World Economic Report, ekonomi global akan melambat signifikan ke posisi yang hanya 2,8% tahun ini dibandingkan tahun lalu 3,4% dan tahun depan diperkirakan naik sedikit ke level 3%,” ujar Sri Mulyani.

Kendati begitu, dia menekankan, tekanan ekonomi global akan sedikit berkurang dengan adanya kebijakan pembukaan ekonomi kembali oleh China setelah selama masa Pandemi menerapkan zero covid policy.

Bagi Indonesia, dia memastikan tekanan tersebut tidak akan signifikan karena inflasi dapat dikelola dengan baik sehingga tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia mampu ditahan di level 5,75%. Defisit fiskal pun mampu dijaga di level 2,84% tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*