Duo Saham Baterai Listrik MBMA-NCKL Ambles, Ada Apa?

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Dua saham emiten nikel terbaru di bursa yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpantau terkoreksi parah hingga lebih dari 6% pada perdagangan sesi I Rabu (26/4/2023).

Per pukul 11:30 WIB, saham MBMA ambles 6,78% ke posisi harga Rp 825/saham dan sudah menyentuh auto reject bawah (ARB). Sedangkan saham NCKL ambrol 6,23% menjadi Rp 1.355/saham dan nyaris menyentuh ARB.

Dari keduanya, https://totokas138.xyz/ terpantau saham NCKL masih lebih baik, terlihat dari order bid atau beli yang masih tertera meski sudah terlihat level ARB-nya. Di saham NCKL, ada 2.355 lot antrian beli di harga Rp 1.355/saham dan batas bawahnya pada hari ini berada di harga Rp 1.345/saham, dengan antrian beli mencapai 42.705 lot.

Namun di saham MBMA, pada order bid belum tertera kembali antrian, menandakan bahwa saham MBMA sudah menyentuh ARB. Bahkan di order offer atau jual di saham MBMA, ada antrian jual sebanyak 860.978 lot di harga Rp 825/saham.

Saham MBMA dan NCKL yang terpantau ambles parah terjadi di tengah melandainya harga nikel pada perdagangan Selasa kemarin. Harga nikel berdasarkan London Metal Exchange (LME) berakhir merosot 5,31% dan menetap di US$ 23.341 per ton.

Selain itu, aksi jual (profit taking) investor sepertinya juga menjadi penyebab keduanya ambles pada sesi I hari ini.

Sebagai informasi, MBMA resmi melantai di bursa pada 18 April lalu atau sehari sebelum libur panjang Lebaran 2023. MBMA menentukan harga pelaksanaan IPO sebesar Rp 795 per saham.

MBMA menawarkan sebanyak 11,5 miliar saham baru yang dikeluarkan dari portepel perusahaan atau 10,24% dari total saham perusahaan. Dengan demikian MBMA meraup sekitar Rp 9,2 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 85,9 triliun.

Emiten produsen bahan baku baterai ini berencana menggunakan dana hasil IPO antara lain untuk membiayai pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek pemrosesan nikel seperti fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) I tahap I dengan kapasitas 60.000 ton per tahun untuk menghasilkan material dalam rantai nilai bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik.

Saham MBMA digadang-gadang bakal menjadi emiten nikel terbesar, bahkan terbesar dari emiten nikel lainnya yakni Vale dan Harita.

Sedangkan untuk saham NCKL resmi melantai di bursa pada 12 April lalu, dengan harga IPO-nya sebesar Rp 1.250/saham.

Dari ajang IPO ini, NCKL bakal meraup dana segar berkisar Rp 9,9 triliun dan merupakan IPO dengan penggalangan dana terbesar di 2023 sejauh ini.

NCKL saat ini sudah mulai melakukan aksi ekspansi dan akan terus memperluas bisnis perusahaan dari perolehan dana IPO.

Dimana hilirisasi nikel Grup Harita bakal memasuki babak baru. Tahun ini, perusahaan patungan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan Lygend Resources & Technology Co., Ltd (Lygend), yakni PT Halmahera Persada Lygend (HPL), berencana memulai produksi komersial Nikel Sulfat (NiSO4) dan Kobalt Sulfat (CoSO4).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*