Ratu Elizabeth, Liverpool, & Perlawanan dari Tribun Penonton

Liverpool's Kostas Tsimikas celebrates after scores the winning penalty in a penalty shootout at the end of the English FA Cup final soccer match between Chelsea and Liverpool, at Wembley stadium, in London, Saturday, May 14, 2022. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Berpulangnya Ratu Elizabeth II pada 8 September 2022 akan dikenang dalam catatan sejarah sebagai salah satu kematian pemimpin bangsa paling menyita perhatian dunia.

Meninggal pada usia 96 tahun, Ratu Elizabeth naik takhta pada 2 Juni 1953. Selama 70 masa pemerintahannya, Sang Ratu telah menjadi saksi berbagai momen bersejarah di dunia, termasuk saat Inggris memenangkan Piala Dunia pertama dan satu-satunya – setidaknya hingga saat ini – pada 1966.

Terkait sepak bola, seluruh klub yang ada di Inggris Raya pun turut mengucapkan bela sungkawa melalui berbagai platform media yang dimiliki, khususnya media sosial, tak lama setelah pengumuman meninggalnya Ratu Elizabeth II.

Ucapan-ucapan tersebut memang menjadi ‘penting’ dan juga ditunggu mengingat Inggris merupakan kiblat dari salah satu olahraga paling populer di dunia tersebut.

Namun, ada yang ‘menarik’ dan mungkin sesuai prediksi dari para pecinta sepak bola Inggris yang sedikit mengetahui sejarah hubungan klub dengan Kerajaan.

Liverpool, klub Inggris tersukses dari total raihan trofi, menjadi klub terakhir yang mengucapkan belasungkawa melalui akun sosial medianya.

Di Twitter, dari 20 klub yang berada di kasta tertinggi Liga Inggris, 19 klub yang perlu sekitar 30-60 menit untuk mengucapkan bela sungkawa. Lain halnya dengan Liverpool yang ‘membutuhkan’ waktu lebih dari 2 jam untuk mengucapkan hal serupa dengan disertai foto pada 1965 kala Sang Ratu memberikan Piala FA kepada kapten Liverpool saat itu, Ron Yeats.

Selain mengucapkan belasungkawa, para klub Liga Premier juga mengganti foto profilnya masing-masing dengan latar belakang hitam dan logo klub berwarna putih. Bisa ditebak, Liverpool jadi tim terakhir juga yang mengganti foto profilnya tersebut.

Kota yang ‘Tersisih’

Terlepas dari tim sosial media Liverpool yang kurang gercep, momen ‘kebetulan’ tersebut bisa jadi pengingat bahwa Liverpool, baik sebagai klub sepak bola maupun kota, berbeda dengan kota lainnya di Inggris.

Sejarah panjang mewarnai perjalanan Liverpool yang kerap berselisih dengan penguasa Inggris, termasuk para perdana menterinya yang menjalankan pemerintahan.

Liverpool adalah kota pelabuhan di wilayah Merseyside, bagian Barat Laut Inggris. Pelabuhan di kota ini sempat diklaim menjadi yang terbesar setelah London dan salah satu pelabuhan kargo utama di dunia.

Penduduk di kota ini pun cenderung unik dan berbeda dibandingkan dengan kota-kota lain di Inggris. Aksen para Scouser, julukan orang-orang asli dari wilayah ini yang pertama kali ‘diakui’ pada 1959, dianggap aneh, bahkan oleh orang-orang Inggris sendiri.

Tak jarang ejekan ndeso disematkan pada orang-orang Liverpool dengan aksen Scouse-nya. Namun, warga Merseyside justru seringkali menunjukkan kebanggaannya dengan menyatakan bahwa mereka bukan orang Inggris, melainkan Scouse.

Dengan ‘stempel’ berbeda dibandingkan dengan kota-kota lain, ditambah dengan statusnya sebagai kota pelabuhan yang memungkinkan banyak imigran datang dengan budayanya masing-masing, Liverpool memang beda dengan kota-kota kain di Inggris.

Sejalan dengan hal tersebut, cara pandang masyarakat kota ini pun menjadi agak lain, dan seringkali tak sepaham dengan kebijakan konservatif kerajaan dan pemerintahan.

Alhasil, Partai Konservatif yang telah sekian lama menguasai pemerintahan Inggris tak laku di sana. Sebaliknya, Partai Buruh yang berhaluan kiri mendominasi di Liverpool.

Ketegangan antara Liverpool dengan pihak pemerintahan Inggris meruncing pada era akhir 19780an-1980an kala kota pelabuhan itu mengalami krisis. PHK besar-besaran tak bisa dihindari dan aktivitas dermaga turun signifikan.

Kondisi tersebut yang meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran, langsung menjadi ladang subur bagi Partai Buruh untuk meraup suara di wilayah tersebut.

Sudah jatuh tertimpa tangga, gejolak yang dialami saat itu pun diperparah oleh meletusnya kerusuhan Toxteth, sebuah distrik di pusat Liverpool, pada 1981 yang melibatkan polisi setempat dengan komunitas kulit hitam.

Melansir BBC, berdasarkan dokumen pemerintah yang dirilis di bawah aturan 30 tahun menunjukkan bahwa para politisi Partai konservatif mendesak Perdana Menteri (PM) Inggris saat itu, Margaret Thatcher, untuk tidak menghabiskan uang publik di ‘tanah berbatu’ Merseyside.

Padahal, sebelumnya telah ada rencana untuk pemulihan kota dengan diutusnya Menteri Lingkungan Michael Heseltine ke Liverpool. Namun, di balik layar di Whitehall, tokoh senior lainnya segera meragukan rencana ambisius Heseltine.

“Kami tidak ingin menemukan diri kami memusatkan semua uang tunai terbatas yang mungkin harus disediakan ke Liverpool dan tidak memiliki apapun yang tersisa untuk area yang mungkin lebih menjanjikan seperti West Midlands atau, bahkan, Timur Laut,” kata surat yang ditulis Kanselir Perdana Menteri saat itu Sir Geoffrey Howe.

Di tengah berbagai desakan tersebut, The Iron Lady, julukan Thatcher, akhirnya ‘mendiamkan’ kota Liverpool berjuang sendirian menghadapi krisis yang terjadi.

‘Luka’ dari Lapangan Hijau

Tak hanya itu, sikap Thatcher terhadap tragedi Heysel dan Hillsborough, kerusuhan berdarah yang melibatkan pendukung klub Liverpool, juga menggoreskan luka di hati para Liverpudlian.

Dalam tragedi Hillsborough yang terjadi pada 15 April 1989 itu, Liverpoll tengah berdahadapn dengan Nottingham Forest dalam partai semifinal Piala FA.

Suporter membludak dan berdesak-desakan. Sebanyak 97 orang pendukung Liverpool tewas, di mana yang terakhir meninggal pada 26 Juli 2021 lalu karena sakit yang diderita akibat kejadian 3 dekade lalu itu.

Thatcher, seperti politisi Inggris lainnya, cenderung menyalahkan suporter Liverpool yang dianggap barbar. Media pun menyudutkan Liverpudlian, terutama The Sun, hingga memicu kemarahan warga di kota tersebut sampai ada ajakan untuk tak membeli surat kabar itu lagi (don’t buy The Sun).

Namun, perjuangan panjang suporter Liverpool akhirnya terbayar pada 2016. Setelah dilakukan penyelidikan baru pada 2012, Pengadilan Tinggi London akhirnya menyatakan kesalahan ada pada pemimpin kepolisian yang gagal dalam mengatur aliran penonton ke stadion.

Lalu, setelah melewati masa pemerintahan Thatcher ketegangan mereda? Tampaknya tidak.

Mantan PM Boris Johnson, yang baru saja lengser digantikan Liz Truss, juga memiliki hubungan buruk dengan Scousers.

Melansir Liverpool Echo, Johnson yang pernah menjadi editor Spectator, dianggap meloloskan kata-kata memalukan untuk dipublikasikan tentang Scousers yang bekerja keras, keluarga korban Hillsborough, dan Ken Bigley, insinyur Liverpool yang dibunuh secara brutal di Irak pada tahun 2004.

Di luar gejolak politik ekonomi, puncak dari ketegangan Liverpool dengan Pemerintah dan Kerajaan Inggris, sekaligus olok-olok paling ‘pedas’ justru datang dari lapangan hijau.

Pada 4 Agustus 2019, misalnya, kala Liverpool menghadapi Manchester City dalam laga Community Shiled di Stadion Wembley, London.

ika lagu kebangsaan, God Save The Queen dinyanyikan, para pendukung Liverpool justru memberikan sikap tak hormat dengan menyorakinya tepat di hadapan anggota kerajaan yang saat itu diwakili Pangeran William.

Hal serupa juga terulang baru-baru ini, pada 30 Juli 2022, juga dalam laga Community Shield yang mempertemukan Liverpool dan Manchester City di King Power Stadium. Liverpudlian kembali mencemooh lagu kebangsaan God Save The Queen.

Kini Sang Ratu telah berpulang dan lagu kebangsaan berubah menjadi God Save The King. Perubahan kecil itu jelas bukan jaminan bahwa ‘perlawanan’ Scousers dari tribun lapangan hijau akan terhenti.

Daftar Seleb Fans Klub Liga Inggris: Adele sampai Kim Jong Un

English Premier League

emier League atau Liga Inggris adalah salah satu liga sepak bola terpopuler di dunia. Berdasarkan catatan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Premier League juga menjadi liga sepak bola terbaik di Eropa. Pada pertengahan musim ini, Liga Inggris unggul di atas La Liga atau Liga Spanyol dengan memperoleh skor koefisien sebesar 16.714.

Tak heran, Premier League pun sukses menyedot perhatian publik, termasuk sejumlah figur publik berkat permainan, prestasi, hingga promosi yang gencar dilakukan para klub. Arsenal, Aston Villa, Manchester City, Chelsea, hingga Tottenham Hotspur merupakan contoh klub-klub Liga Inggris dengan penggemar dari kalangan figur publik terbanyak.

Berikut deretan klub Liga Inggris yang memiliki penggemar setia dari kalangan figur publik, dilansir dari Four Four Two.

1. Arsenal

The Gunners menjadi klub pertama yang mengisi daftar klub Premier League dengan penggemar setia dari kalangan figur publik. Klub yang saat ini tengah merajai klasemen ternyata diidolakan oleh sejumlah politisi Inggris, seperti Keir Starmer, John Bercow, dan Jeremy Corbyn. Bahkan, Pangeran Harry juga disebut sebagai salah satu penggemar setia Arsenal.

Tidak hanya politisi, klub yang bermarkas di London ini juga digemari oleh para komedian dan aktor, yakni Dara O’Briain, Matt Lucas, Alan Davies, Colin Firth, Mark Strong, dan Daisy Ridley.

Selain itu, deretan artis Hollywood juga disebut mendukung klub yang bermarkas di Emirates Stadium ini, seperti Jay-Z, Chris Martin, Rihanna, hingga Idris Elba.

Bahkan, Osama bin Laden juga disebut menjadikan Arsenal sebagai klub favoritnya.

2. Aston Villa

Salah satu raksasa Liga Inggris ini juga masuk ke dalam daftar klub kecintaan figur publik. Pangeran William adalah salah satu penggemar setia Aston Villa. Bahkan, Pangeran William dilaporkan sempat kesal saat menyerahkan medali runner-up kepada klub dukungannya saat final Piala FA 2015 karena Aston Villa gagal menjadi juara.

Selain Pangeran William, mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron; Black Sabbath; David Bradley; dan Tom Hanks juga dikenal sebagai pendukung setia Aston Villa.

3. Chelsea

The Blues adalah salah satu klub terpopuler dan terbesar di Inggris. Maka dari itu, tidak heran jika Natalie Dormer, Jeremy Clarkson, Mark Ronson, Ellie Goulding, Gordon Ramsay, Damon Albarn, dan Cara Delevingne memilih untuk mendukung tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu.

4. Liverpool

Nelson Mandela, Angelina Jolie, Samuel L Jackson, Dan LeBron James adalah deretan figur publik penggemar The Reds. Tidak hanya mereka, penyanyi perempuan Amerika Serikat (AS) Lana Del Rey juga sempat mengklaim bahwa dirinya penggemar Liverpool sejak Luis Suarez merumput di Alfield.

5. Manchester City

Manchester City adalah ‘monster’ kota Manchester dan Inggris yang memiliki banyak penggemar dari berbagai belahan dunia. Dibandingkan rivalnya, Manchester United, Ian Curtis, Johnny Marr, Rick Wakeman, Alan Carr, Timothy Dalton dan Alan Rickman lebih memilih untuk mendukung The Citizens.

6. Manchester United

Tidak kalah dari rival sekotanya, Manchester United yang saat ini dikabarkan ingin diakuisisi oleh Emir Watar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani juga memiliki pendukung terbanyak di dunia. Floyd Mayweather, Megan Fox, Justin Timberlake, Steve Coogan dan Thom Yorke adalah sejumlah nama figur publik yang masuk ke daftar penggemar setia si Setan Merah.

Selain mereka, Karl Pilkington, Rory McIlroy, Danny Boyle, John Simm dan bahkan Kim Jong Un juga disebut sebagai pendukung setia MU.

7. Tottenham Hotspur

Tottenham Hotspur yang saat ini menduduki posisi empat klasemen Liga Inggris ternyata memiliki sederet penggemar dari kalangan figur publik. Salah satu penggemar setia Hotspur yang terkenal adalah Adele. Diketahui, Hotspur sempat mengunggah video penyanyi lagu “Easy on Me” ini menyanyikan “Glory Glory Tottenham Hotspur”.

Adele bukanlah satu-satunya figur publik yang menggandrungi Hotspur, Trevor McDonald, Barry Davies Avelino, Annie Mac, JK Rowling, AJ Tracey, dan Dave Bautista juga mengklaim bahwa mereka menjagokan klub ayam jago ini.

10 Klub Sepakbola dengan Pendapatan Tertinggi di Dunia 2022

Inilah 10 Klub Sepak Bola Terkaya di Dunia

Deloitte Football Money League telah merilis daftar 10 klub sepak bola dengan pendapatan tertinggi 2022 di dunia. Kali ini, salah satu raksasa sekaligus klub sultan Liga Inggris, Manchester City merajai daftar tersebut mengalahkan Real Madrid dan Paris Saint-Germain (PSG).

Berdasarkan laporan Deloitte, Manchester City berhasil meraih 731 juta Euro atau sekitar Rp11,9 triliun (kurs Rp16.410/Euro) pada 2022. Angka tersebut membuat Real Madrid tergeser di posisi kedua dengan angka tipis, yaitu 713,8 juta Euro atau sekitar Rp11,7 triliun.

Sementara itu, peringkat tiga diisi oleh Liverpool dengan total pendapatan 701,7 juta Euro atau sekitar Rp11,5 triliun.

Sementara itu, dua klub yang dinilai sebagai tim sultan lainnya, Manchester United (MU) dan PSG bertengger di posisi keempat dan kelima. MU dilaporkan meraih pendapatan dengan total 688,6 Euro atau setara dengan Rp11,2 triliun. Sementara itu, sang sultan Ligue 1, PSG meraih total pendapatan senilai 654,2 Euro atau setara Rp10,7 triliun.

Deloitte menyebutkan, lima dari enam besar klub Liga Inggris mengalami peningkatan pendapatan sebesar 15 persen setelah dua musim Covid-19 berkat adanya kerja sama baru dengan pihak eksternal dan adanya acara non pertandingan, seperti konser dan tur stadion.

Selain itu, kembalinya para penggemar membuat pendapatan keseluruhan klub sejalan dengan tingkat sebelum pandemi. Dilaporkan, 20 klub teratas pada musim 2021/2022 menghasilkan 15 persen pendapatan mereka dari aktivitas harian pertandingan, 44 persen dari penyiaran, dan 41 persen dari sumber komersial. Angka tersebut dinilai hampir identik dengan catatan pada musim 2018/2019.

Berikut daftar 10 klub terkaya di dunia berdasarkan Deloitte Football Money League 2023.

  1. Manchester City: 731 juta Euro (sekitar Rp11,9 triliun)
  2. Real Madrid: 713,8 juta Euro (sekitar Rp11,7 triliun)
  3. Liverpool: 701,7 juta Euro (sekitar Rp11,5 triliun)
  4. Manchester United: 688,6 juta Euro (sekitar Rp11,2 triliun)
  5. Paris Saint-Germain: 654,2 juta Euro (sekitar Rp10,7 triliun)
  6. Bayern Munich: 653,6 juta Euro (sekitar Rp10,7 triliun)
  7. FC Barcelona: 638,2 juta Euro (sekitar Rp10,4 triliun)
  8. Chelsea: 568,3 juta Euro (sekitar Rp9,3 triliun)
  9. Tottenham Hotspur: 523 juta Euro (sekitar Rp8,5 triliun)
  10. Arsenal: 433,5 juta Euro (sekitar Rp7,1 triliun)

Sekadar informasi, Deloitte Football Money League adalah peringkat klub sepakbola berdasarkan pendapatan yang dihasilkan dari operasional sepakbola. Penghargaan ini dirilis setiap tahun oleh perusahaan akuntansi Deloitte.

MU Tumbang 7-0 Digeprek Liverpool, Ini Alasan Bruno Fernandes

Para pemain Manchester United terlihat sedih saat meninggalkan lapangan, setelah kalah 7-0 saat pertandingan Premier League antara Liverpool FC dan Manchester United di Anfield pada 05 Maret 2023 di Liverpool, Inggris. (Michael Regan/Getty Images)

Kapten Manchester United (MU), Bruno Fernandes mengungkapkan alasan klubnya dibantai Liverpool tujuh gol tanpa ampun dalam laga Liga Inggris di Anfield, Minggu (5/3/2023).

Fernandes menilai bahwa performa timnya tidak terlalu buruk pada babak pertama meskipun sempat tertinggal 0-1 lewat gol Cody Gakpo di menit ke-43. Namun, kesalahan terbesar MU ada di babak kedua.

“Saya rasa, babak pertama adalah performa yang baik dari kami. Kami punya banyak kesempatan, kami lebih banyak mendominasi dan mereka tidak banyak menciptakan peluang,” ujar Fernandes, dikutip dari situs resmi MU, Senin (6/3/2023).

“Babak kedua kami tidak bermain di level kami dan kami memberikan banyak ruang terbuka. Kami memberi mereka banyak waktu dan kesempatan melakukan serangan balik. Kami tahu betapa besar ancaman yang mereka miliki dari momen seperti itu,” lanjut salah satu gelandang MU itu.

Pemain bernomor punggung 8 ini mengaku bahwa kekalahan 0-7 dari Liverpool adalah hal yang tidak bisa diterima. Terlebih, MU sedang dalam performa cukup baik di Premier League, bahkan sebelum bertandang ke kandang Liverpool.

“Tentu saja ini sangat membuat frustasi, mengecewakan, dan menyedihkan karena ini benar-benar hasil yang buruk,” ujar salah satu pemain tim nasional Portugal itu.

Meskipun demikian, ia menekankan agar MU tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan dan harus bangkit pada laga berikutnya, yakni menghadapi Real Betis di 16 besar Liga Eropa.

“Ini bukan level kami dan kami tahu sejauh mana kami bisa tampil lebih baik dan sejauh mana kualitas yang kami miliki.”

“Kini kami harus fokus pada laga berikutnya dan kembali meraih hasil baik,” ucap mantan pemain Sporting Lisbon itu.

Liverpool menghancurkan MU di laga pekan ke-26 Premier League 2022/2023 di Stadion Anfield, Minggu (5/3/2023). Dalam North West Derby itu, Cody Gakpo, Darwin Nunez, dan Mohamed Salah sukses menyumbangkan masing-masing brace alias dua gol. Sementara itu, satu gol lagi dicatatkan oleh Roberto Firmino.

Berkat penyerangan tanpa ampun itu, Liverpool naik ke peringkat lima klasemen sementara Liga Inggris dengan koleksi 42 poin, sementara itu MU masih bertengger di peringkat tiga dengan raihan 49 angka.