Salim Untung Besar, Laba BUMI Meroket 213% Jadi Rp7,88 T

BINTAN ISLAND, INDONESIA - JULY 09: Anthony Salim poses during a portrait session on July 09, 2012 in Bintan Island, Indonesia. Anthony Salim or Liem Sien Hong, son of senior Indonesian businessman Sudono Salim or Liem Sioe Liong, is CEO of Salim Group and one of the 10 Most Influential Business Leaders in Indonesia and Asia. He was considered to be integral in the rebuilding of the Salim Group's business empire after it suffered a setback following the 1998 economic crisis. Before the economic crisis, Salim Group was the largest conglomerate in Indonesia with assets of U.S. $ 10 billion. Forbes magazine even named Liem Sioe Liong, founder of the Salim Group, as one of the richest people in the world. (Photo by Yuli Seperi/Getty Images)

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang tahun lalu baru diakuisisi taipan RI pemilik konglomerat bisnis Grup Salim, Anthoni Salim, mencatatkan kenaikan laba bersih 213% menjadi Rp 7,88 triliun.

Lonjakan laba bersih ini terjadi karena meroketnya harga batu bara acuan global sepanjang tahun lalu dan menjadi penopang kenaikan pendapatan perusahaan yang sepanjang tahun lalu mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Perusahaan batu bara raksasa RI tersebut mencatatkan pendapatan senilai US$ 8,53 miliar atau setara Rp 128,64 triliun (kurs Rp 15.082) sepanjang 2022, melesat 57% dibandingkan 2021 senilai US$ 5,42 juta.

Pendapatan tersebut pun menjadi rekor emiten batu bara di bawah naungan Grup Bakrie dan Salim. Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, pendapatan tersebut termasuk laporan konsolidasi PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Kenaikan pendapatan dan laba terjadi meskipun penjualan batu bara perusahaan menurun.

Penjualan batu bara pun turun 12% dari semula 79 juta ton pada 2021, menjadi 69,4 juta ton di 2022. Rinciannya, penjualan KPC turun 15% menjadi 48,2 juta ton, dan Arutmin menjadi 21,2 juta ton, turun 4%.

Sementara itu, batu bara yang ditambang sepanjang tahun lalu pun menjadi 71,9 juta ton, karena turunnya produksi Arutmin dan KPC.

Sekretaris dan Direktur BUMI Dileep Srivastava mengatakan sepanjang 2022 perusahaan menghadapi tantangan ‘unik’ yakni hujan lebat terus menerus sejak akhir 2021. Krisis energi dan konflik geopolitik pun menurutnya menjadi perhatian, karena berpotensi pada berlanjutnya gejolak ekonomi.

“Kekhawatiran akan resesi, dan ketidakstabilan keuangan baru-baru ini yang berpotensi menyebabkan gangguan ekonomi lebih lanjut,” kata Dileep, Rabu (29/3/2023).

Grup Salim resmi masuk menjadi pemegang saham BUMI setelah menyetor dana lewat aksi korporasiĀ private placementĀ yang dilaksanakan perusahaan.

Terdapat dua entitas pemegang saham BUMI yang berada di bawah payung Grup Salim yakni Mach Energy (Hongkong) Limited (MEL) dan Treasure Global Investments Limited (TGIL).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*